

var google_afd_request = {
| Pramex-ku Yang Ku Cinta, Dimata Mahasiswa Asing… | 29 May |
KEMBALI KE SOLO (PART 3)
PRAMEX-KU YANG KU CINTA, DIMATA MAHASISWA ASING…
Ruang bioskop yang tadinya gelap gulita dan hanya terkena cahaya dari layar lebar yang ada didepan, tiba-tiba aja berubah menjadi terang benderang. Aku pun dengan malasnya masih duduk-duduk saja di kursiku, begitu pula Galuh. Maklum kita berdua sadar akan badan kami yang memang bonsor dan pastinya hanya akan memenuhi pintu keluar disamping ruangan. Setelah hampir habis orang yang ada didalam bioskop, aku pun mulai beranjak bersama Galuh. Tapi tak berapa lama aku tertawa cekikikan berdua dengan Galuh, karena aku yakin yang ada di otak kami itu isinya sama. Bagaimana kita tidak tertawa? Sesaat setelah kita berdiri tegak, mbak-mbak yang salah kostum dan yang dari tadi uring-uringan karena salah memilih film itu, akhirnya lewat didepan kami. Aku sih berharap mbak-mbak itu kalau besok-besok mau nonton film lagi, setidaknya mencari dulu lah referensi film yang mau ditontonya itu, jangan beli tiket aj mentang2 bergaya glamor dan punya uang banyak. Kan percuma, kalau ternyata isi otaknya kosong, dan hanya ngomel-ngomel karena film “Jamila dan Sang Presiden” ternyata film yang berat dan perlu pemahaman lebih saat menontonnya. Ya pastilah dia bingung sendiri, dan ga tau film itu bercerita tentang apa, belum lagi yang gaya perfilmannya teater banget. Saran aja deh ya mbak, kalau mo nonton film komedi dan sedikit parno-parno gitu, ya tinggal liat aja yang bintang filmnya Tora Sudiro…hehee…Aku jamin, kamu ga salah milih film lagi deh, okey?
| HUKUM ITU INDAH… | 22 May |
KEMBALI KE SOLO (PART 2)
Siang itu, setelah si adik selesai keramas, aku dan Galuh pun segera ambil air wudlu buat dhuhur. Karena rencananya, kami mau nonton film beneran di 21 Grandmall. Seperti biasa, belum juga kami beranjak setelah bilang itu semua ke si adik. Jadi deh, si adik gantian meledek kami. Namun, tak berapa lama handphone ku berbunyi, dan ternyata itu adalah Mas Guritna atau biasa aku panggil “Mas Nana”. Lihat kan, nama Nana juga tak hanya milik kaum cewek, hehee…
Mas Nana adalah temanku magang di Pusat computer UNS, pas kami lagi lucu-lucunya jadi mahasiswa tingkat akhir yang ga kelar-kelar juga. Tapi sekarang aku dah lulus, dah lama malahan 2 tahun lalu, sedang Mas Nana, sepertinya baru akan selesai. Meski begitu, aku sama sekali ga berani mengejeknya, karena meski anak-anak MIPA yang doyan main-main computer, mereka emang pada canggih-canggih banget soal computer dan internet, palagi kalau buat mbajak-mbajak,hehee. Tapi semua itu sudah jadi hal biasa kok, sebab memang dah digaransi ga bakal lulus cepet anak-anak seperti semua teman-temanku di Puskom itu. Kalau belum ampe semester 14, termasuk perpanjangan kuliah 2 kali, dan surat peringatan DO belum diterima, aku yakin mereka ga bakalan mau nggagas pendadaran skripsi,heheee…
relatedSearches += '
| AGNES MONICA , SIGI WIMALA ATAU VOKALIS YOVIE AND THE NUNO…? | 18 May |
KEMBALI KE SOLO (PART 1)
Hari itu, hari Kamis sore menjelang senja. Aku berencana pergi ke Solo menemui teman-temanku yang sangat aku rindukan. Saat itu seminggu setelah kepulanganku dari Borneo dan tentu saja setelah badanku agak baikan dari acara usung usung meja ke kamarku pada cerita sebelumnya. Dengan motorku dan hati penuh keceriaan, aku pun menuju ke stasiun berboncengan dengan si inem yang akan membawa pulang kembali motorku. Begitu sampai di stasiun, aku pun menerobos saja mas-mas yang ribet banget tanya-tanya soal prameks ma mbak-mbak tukang tiket. Berhubung masnya biasa aja tampangnya, naluriku pun biasa aja bahkan lebih geregetan soalnya ga perlu deh tanya-tanya ribet gitu secara jelas terpampang di papan jadwal lengkap prameks. Kecuali si mas itu emang ga bisa baca kali ya ! Bayangin aj gimana Indonesia bisa maju coba, kalau semua papan petunjuk ga ada yang dibaca ma calon penumpang kereta. Bisa-bisa mba-mba tukang tiket itu juga bisa kehabisan nafas ngejelasin ke semua cowok kayak mas nya itu, padahal masnya itu cuma butuh ke Yogya lagi. Aku sih cuek aja saat mas nya kelirik sirik gitu saat aku serobot,hehehe…
else if (document.getElementById){
{
| WELCOME HOME… | 12 May |
Kamis itu, 23 April 2005, aku akhirnya kembali lagi ke kota kelahiranku setelah aku habiskan 6 bulan di Borneo yang mengesankanku. Tepat pukul 5 sore, pesawatku tiba di bandara Adi Sucipto. Sepanjang 300 meter aku harus berjalan dari pesawat menuju koperku yang sudah dibawa ke dekat pintu keluar bandara. Gerimis mengenai rambutku saat itu, tapi aku berucap syukur yang mendalam karena pesawatku telah landing. Tahu sendiri lah, aku termasuk orang yang takut ketinggian meski ga terlalu parah. Tapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pesawat yang bergoncang akibat cuaca buruk, sepertinya aku akan menjadi sangat ketakutan hingga tak tau malu. Hehehe, itu karena jika aku naik lift, aku masih bisa menahan malu ku, so aku tetep aja bias jaim.
Saking senangnya melihat peradaban yang ada di Yogya setelah keterasinganku di Borneo, membuatku lupa diri. Tapi akhirnya aku tersadar, setelah hiruk pikuk orang-orang berebut taksi didepanku dan hujan yang mulai deras. Aku pun lalu menghidupkan telpon genggamku dan aku hubungi kakak iparku yang akan menjemputku. Jarak kotaku hanya 1 jam dari bandara, jadi aku lebih suka naik motor pulangnya daripada aku harus naik bus, apalagi bus selalu membuatku mabuk. Memang sangat menyebalkan saat kereta pramex yang sangat aku cintai itu hanya punya jadwal keberangkatan terakhir pukul 4 sore ke kotaku. Namun bagaimanapun, motor tetaplah alat transportasi yang pualing aku suka.
| “SESUATU” DARI BORNEO… | 7 May |
Banyak orang ketika itu shock mendengar keputusanku untuk pergi ke bumi khatulistiwa, tepatnya di Kalimantan Selatan. Pikiran itu sebenarnya sudah lama ada dalam benakku sejak aku tiba-tiba saja masuk rumah sakit karena Demam Berdarah dan tak berapa lama, ayahku menyusul masuk rumah sakit karena sroke-nya, dan akhirnya meninggal dunia. Semua hal yang datang bertubi-tubi itu, membuat aku menjadi bukan diriku lagi, hatiku goyah, dan bahkan aku tak mampu berfikir tentang diriku lagi. Aku sama sekali tak tau, aku akan melakukan apa ke depannya.
Aku benar-benar tak pernah menyangka saja, kejadiannya begitu cepat terjadi. Aku bahkan masih tak percaya, ayahku pergi begitu cepatnya meninggalkan kami. Dua bulan, aku tak masuk tempat kerjaku karena selain DB aku juga terkena typus dan harus istirahat total 1 bulan. Tapi, kenyataannya, cutiku menjadi sangat panjang karena kepergian ayahku. Belum lagi kekecewaanku terhadap bosku, membuat aku juga akhirnya mengecewakannya. Semua hal itu, datang secara beruntun, dan semuanya berat sekali rasanya. Sepanjang hari, aku hanya berusaha agar isi otakku kosong, aku berharap bisa mengeluarkan semua hal yang ada didalamnya. Tapi sia-sia, selalu saja ada hal yang aku pikirkan, hingga aku merasa tak pernah bisa berhenti berfikir.
if (google_link_units.length > 0) {
| Kluwek…wek..wek…wek ! Kau datang disaat yang tepat pada orang yang keren,hehee… | 20 Jan |
Tepat jam 07:09:49 Waktu Indonesia Tengah, adikku Kurnia, dedengkotnya SAT setelah angkatanku, tiba-tiba memeberiku sebuah alamat situs KLUWEK (Kelompok Linux Cewek Solo). Sayangnya, saat itu aku lagi sedikit ribet dengan urusan e-mail dari benua Eropa. Fiuh, sedikit tegang, ditambah tiba-tiba mati lampu. Tapi sepertinya, semua sedang berpihak padaku saat itu.
Lampu kembali nyala dan internetku beraksi kembali. Bahkan di tengah matinya lampu tadi, justru ide juga muncul untuk menyelesaikan masalahku terkait e-mailku yang tadi. Setelah semua terkendali, aku buzz Mr Kurnia, but no respon. Padahal aku ingin ngobrol, so ya aku alihkan buat menulis di blog-ku ini deh.
Actually, aku mau menceritakan tentang betapa beruntungnya aku saat ini. Punya adik-adik SAT yang selalu “care” dengan ku, selalu membantuku meski aku kini jauh dari mereka. Yah, maaf, kakakmu ini sedang butuh udara lain. But, kita tetap selalu keep in touch, kita tetap selalu sharing banyak hal melalui dunia maya ini. Meski hiks, aku sedikit berkorban di sini, aku harus membayar penggunaan internetku. Menyedihkan dan cukup shock, mengingat begitu nyamannya dulu ketika masih magang di Puskom, hidupku selalu di banjiri bandwith non stop 24 hours.