HUKUM ITU INDAH…

KEMBALI KE SOLO (PART 2)

Siang itu, setelah si adik selesai keramas, aku dan Galuh pun segera ambil air wudlu buat dhuhur. Karena rencananya, kami mau nonton film beneran di 21 Grandmall. Seperti biasa, belum juga kami beranjak setelah bilang itu semua ke si adik. Jadi deh, si adik gantian meledek kami. Namun, tak berapa lama handphone ku berbunyi, dan ternyata itu adalah Mas Guritna atau biasa aku panggil “Mas Nana”. Lihat kan, nama Nana juga tak hanya milik kaum cewek, hehee…

Mas Nana adalah temanku magang di Pusat computer UNS, pas kami lagi lucu-lucunya jadi mahasiswa tingkat akhir yang ga kelar-kelar juga. Tapi sekarang aku dah lulus, dah lama malahan 2 tahun lalu, sedang Mas Nana, sepertinya baru akan selesai. Meski begitu, aku sama sekali ga berani mengejeknya, karena meski anak-anak MIPA yang doyan main-main computer, mereka emang pada canggih-canggih banget soal computer dan internet, palagi kalau buat mbajak-mbajak,hehee. Tapi semua itu sudah jadi hal biasa kok, sebab memang dah digaransi ga bakal lulus cepet anak-anak seperti semua teman-temanku di Puskom itu. Kalau belum ampe semester 14, termasuk perpanjangan kuliah 2 kali, dan surat peringatan DO belum diterima, aku yakin mereka ga bakalan mau nggagas pendadaran skripsi,heheee…

Ya ga papa juga sih, tetep sah-sah aja, wong ya mereka dapat duit banyak dari pinternya mainan computer itu kok ! Salut deh buat mereka dan aku tetep mendukung mereka yang ga lulus2 itu, kan aku jadi tetep punya banyak temen di kampus saat aku mbantuin proyek di kampus 1,5 tahun setelah kelulusanku. Pokoknya, aku tetep nikmati banget kebersamaan dengan mereka, luv u all guys…!

Well balik lagi ke ceritaku tadi ya…

Ternyata Mas Nana nge-call aku itu, buat ngasih tau aku kalau dia dah nungguin aku di toko komputernya. Seperti biasa juga, lemotku kumat, aku lupa kalau aku dah janjian ma dia sehabis jum’atan. Ya cuma ngasihin laptopku yang error itu ke dia buat dibenerin sih, tapi kan aku malu juga secara itu yang butuh aku gitu loh…Buru-buru deh aku cabut ke tokonya sehabis sholat, dan sesampainya disana, kulihat dia dah nongkrong dimotornya nungguin aku karena tokonya tutup setengah hari pada hari itu. Ups, making ga enak aja deh aku, lagi-lagi karena kelemotanku. Hehee, beruntungnya, teman-temanku itu memang dasar anak-anak baik semua dan cukup paham kebiasaan lemotku, so ya aku jadi berkurang deh tidak enak hatinya. Tapi suer kok, sekarang aku dah mau mulai focus ninggalin kelemotanku itu. Setidaknya sekarang kunci motor dah ga terlalu sering ilang karena aku selalu lupa naruhnya dimana, meski kalao dompet hampir masih selalu ketinggalan,heheee…

Setelah ngobrol dikit dengan Mas Nana, aku pun kembali ke kos-kosan, dan berharap Galuh pun dah siap buat aku ajak jalan. Tapi kenyataannya, dia masih saja berkutat dengan lipstick dan bedaknya di depan kaca. Belum lagi, dia masih saja tank-top-an padahal kulihat wajahnya dah rapi ditutup kerudungnya. Emang dasar kebiasaannya yang aneh kalau berdandan, ya seperti itu. Memakai bajunya adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Jadi meski saat didepan cermin dia terlihat sangat aneh, krn hanya ber-tank-top ria dan bercelana pendek, tapi kepalanya sudah berjilbab lengkap dengan lipstick, bedak, eyes shadow dan bla-bla bla lainnya. Itu berarti, aku masih harus menunggunya sekitar setengah jam lagi sebelum akhirnya dia ready. Berhubung aku cuma butuh mengambil jaketku saja kalau mau pergi tanpa bla-bla-bla kayak Galuh, aku pun cuma nonkrong di depan TV ngeliat acara-acara yang makin hari makin payah banget !

Jam setengah 3, aku pun baru meluncur kekota ma Galuh, padahal film yang akan kami tonton mulai pukul 4 sore tepat. Sayangnya, aku pun harus rela ketinggalan sedikit saat film itu mulai karena sebelumnya aku harus menengok temenku yang baru saja melahirkan dan harus kehilangan bayinya. Sedih banget rasanya saat kesana, temenku langsung memelukku dan menangis, karena ku akui hatinya pasti kacau saat itu dan aku yang tiba-tiba balik dari Borneo, tanpa sinyal apapun, menemuinya di rumahnya. Aku turut bersedih kawan, tapi tabahlah selalu ya…Maaf, aku ga bisa ada disisimu di saat-saat terberatmu kehilangan si adik kecil. Hiks, tau kah kamu, aku juga sedih banget saat itu, palagi saat kamu aku telpon dari Borneo juga ga bisa bicara karena nangis terus. Maaf banget, aku bahkan ga bisa lihat wajah ponakan cewekku yang pasti sama cantiknya denganmu kawan. Tapi mungkin itu yang terbaik buat dia juga, cukuplah dia mendengar cerita tentang tante nya yang gila ini, saat di kandunganmu dulu dan cukuplah baginya merasakan sentuhan tantenya ini dari belaian tanganku dulu di perutmu kawan. Jangan bersedih lagi ya, kuatkan dirimu, sehatkan badanmu, dan buatkanlah aku ponakan-ponakan yang ganteng dan cuantik-cuantik, tapi semoga nanti tidaklah segila tantenya ini,hehee…

Meski aku ga pinter kalau becandain anak kecil dan lebih sering bikin mereka nangis, tapi aku cukup senang sebenarnya kalau mereka suka ngelendot-ngelendotin aku. Satu keponakanku cowok, si kecilnya Mba Ache, dan dia dengan lantang kita namai “Baleon”, padahal nama aslinya cukup keren “Ibrahim Lionel Kurniawan”. Itu karena waktu umur beberapa bula, baleon gendut banget, so ma si Tya, dipanggil Balon. Nah, sedang bapaknya Leon alias suaminya Mba Ache sering banget ngasih tambahan “Ba” untuk nama panggilan orang-orang yang sering main kerumah. Tentu saja, aku yang sama ga jelasnya dengan Tya, dengan senang hati, Mas Teddy(Bapaknya Leon), menyebutku dengan nama “Balonink”, karena nama panggilanku “onink”. Parah banget kan ? Secara aku juga ga jelek-jelek amat, juga ga katrok alias ndeso, cukup cerdas juga otakku meski aku juga ga tau kenapa aku sering lemot terhadap hal-hal yang kecil kayak kunci motor, kacamata dll. Dan karena kita ga terima, akhirnya kita bales deh dia dan juga ke anaknya. Mas Teddy dengan bangganya kita sebut “Balendut” karena semua-muanya yang gendut, dan “Baleon” untuk si kecil ponakan kami itu. Satu hal dari baleon yang persis banget sama aku, dia bener-bener anak yang suka banget mutung alias mutungan. Itu aku banget, dan sering banget bikin ibunya geregetan, seperti halnya dia sangat-sangat geregetan padaku tiap kali aku mutung,hehee…Sepertinya dia sering membatin tentang diriku yang sering banget mutung meski untuk hal-hal sepele, di saat baleon di dalam kandungan. Dan sekarang, setelah liat Baleon punya kelakuan kayak aku, dia selalu bilang “Ooo lha kok kayak tante Onink gitu to dik kamu? Mutungane pool…”. Well tiap kali Mba Ache begitu, aku selalu tersenyum bangga, karena tak kusangka, aku sudah bisa memberi pengaruh pada ponakanku itu, meski pengaruh yang buruk,hehee. Sepertinya, dengan yakin juga bisa kukatakan kalau Baleon bakal sama gilanya dengan tante-tante gilanya nanti, aku dan Tya,kekekee…Lucunya, tiap kali baleon mutung, cara Mba Ache memperlakukannya juga sama persis seperti dia memperlakukanku tiap kali aku mutung. Hihiii…aku sih cuek aja, tapi kasian juga kalau Baleon sudah mendapatkan perlakuan seperti itu, di cuekin terus ampe guling-guling sendiri ga jelas di kasur berjam-jam. Emang dasar Mba Ache juga sama ga jelasnya,hehee…

Cukup ya cerita tentang Baleon, aku balik lagi ke ceritaku sebelumnya…(Kayakke tulisanku kali ini, emang lagi seneng-senengnya bolak balik ya,hehee…)

Nah, setelah udah sekitar 1 jam aku ngobrol dengan temenku di rumahnya, aku pun segera pamit ma Galuh. Bukannya apa-apa sih, tapi itu film yang mo kita tonton di 21 Solo Grandmall udah mau mulai. Meluncurlah kami segera ke sana, dan setelah hampir melalui jalan-jalan dan gang-gang kecil berharap bisa mencari jaln cepat ke Grandmall, ternyata sama saja, kita ga bisa tepat waktu. Tapi emang ku akui, rumah temenku itu letakknya sungguh tidak strategis untuk bisa cepat menuju ke pusat kota. Paling tidak kita perlu mengelilingi Keraton Surakarta Solo yang masih saja terkenal dengan perebutan tahtanya. Itu menyebalkan sekali, belum lagi parkir motor letaknya di basemen, sedangkan studio ada di Lantai 4 dan masih naik tangga berjalan. Akhirnya setelah beli tiket dan tanpa sempat beli camilan, yang bikin aku kelaparan di dalam, kami tetap saja telat 10 menit.

Film yang kami tonton saat itu adalah “Jamila dan Sang presiden”. Malam sebelumnya, aku telah melihat diskusinya di salah satu TV swasta, pagi harinya aku juga melihatnya di TV swasta lainnya, dan saat aku naik prameks pun, aku telah membacanya di Koran seharga Rp.1000 dan bahkan dimarah-marahin penjualnya karena uangku pas itu gede-gede semua dan sulit banget bagiku mendapati uang Rp 1000 di semua saku jaket dan celanaku. Untung ada sepasang suami istri yang baik hati memberikan uang keping Rp 500 an , 2 buah ke bapak tukang Koran itu. Terima kasih banyak ya Mas dan Mbak suami istri yang duduk di sebelahku pas naik pramek dari Kutoarjo-Solo, jasamu sungguh mulia karena aku jadi makin paham tentang referensi film yang mau aku tonton. Hehehe, padahal sehabis dibeliin Koran, aku juga ga nawarin dia mbaca lho, jahat banget ya aku…

Bagiku film itu keren banget, walau emang sih, orang awam yang ga doyan teater apa lagi, bakal susah banget buat mencerna. But, generally, pesan moralnya tersampaikan sekali kok. Aku bahkan baru tau, kalau human trafficking di Indonesia masih besar banget, padahal selama ini kan dah sepi dari topic-topik berita yang ditayangkan di TV. Tapi yang semakin aku yakini, memang benar, konspirasi-konspirasi politik dan kejahatan yang melibatkan orang-orang pemerintahan makin kelihatan banget sekarang ini. Mengerikannya udah ga cuma local nasional saja, tapi dah mendunia, internasional banget deh jaringannya. Secara aku anak lulusan hukum, yang emang tertarik ke hukum internasional, dan juga dapat ilmu tentang politik juga pemerintahan. Rasanya kecewa banget dengan segala hal yang ada di Indonesia sekarang ini, rasa-rasanya mati kutu aj kalau mau membantu. Tau sendiri lah, dalam menolong yang melingkupi hal yang besar, bukan sekedar bayarin temen yang utang nasi kucing di HIK pinggir jalan lho…Kita itu pasti tetep butuh lah, bantuan lainnya juga seperti LSM atau pemerintah, bahkan dengan jelas-jelas ke polisi kalau menyangkut kriminalitas. Sayangnya, tiap kali kita minta tolong orang-orang didalam situ, kok ya susah banget mendapatkan orang-orang yang focus dibidangnya itu dan jadinya, kelihatan sekali ga ada yang mudah kita mintai tolong dengan tulus ikhlas meski sebenarnya sudah masuk dalam jobdesk profesi yang disandangnya. Well, tapi ya aku ga bisa nge-jugde siapa-siapa donk, palagi Negara kita menganut prinsip praduga tak bersalah, so ga bisa lah yang asal-asalan gitu. Bukan nyalahin system hukum Negara kita juga lho, karena system hukum lain juga ada plus dan minusnya, so ya wise wise nya kita aja lah menyikapinya. Satu yang pasti, kita harus selalu kuatkan iman didada, karena kalau iman masih ada, hati kita pasti bisa lebih kuat kok ngasih tau kita mana sih sebenarnya yang salah dan mana sih sebenarnya yang ga bener atau kurang pantas atau ga baik buat dilakukan? Semua itu, apapun itu, ujung-ujungnya balik ke diri kita masing-masing kok…

Sama hal nya saat kita lihat melihat advokat atau hakim atau jaksa atau apapun yang bergelut di dunia hukum, lebih-lebih sarjana hokum yang dikira tau tentang semua hukum (Sorry ya, aku kasih pandangan dari sisi hukum, karena sedikit banyak aku tau, dan banyak pula temen-temenku pada nanya…). Banyak yang bilang kalau orang pinter hukum berarti pinter bicara, bersilat lidah, mencari celah hukum sana sini. Asal kalian tau saja, ga semua tau hukum meski mereka telah kuliah ampe ga ada sekolah hukum lain yang lebih tinggi lagi, tetep aja ada yang akhirnya keluar dari hukum yang diyakini oleh pendahulu-pendahulunya. Bahkan banyak yang dah jadi dosen dan professor juga terjerat dalam persepsi yang salah dan akhirnya kehilangan jati dirinya sebagai orang hukum (komunitas hukum). Banyak ilmu-ilmu hukum modern yang mengarah sisi politik, yang akhirnya mengaburkan sisi keadilan yang adalah inti dari hukum itu sendiri, dan beralih lah ke sisi kepentingan, dengan dalih menciptakan Negara yang hebat. Belum lagi, hukum yang mengarah ke sisi sosiologis, yang akhirnya mengaburkan keadilan bagi masyarakat dengan usaha untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Bagaimana pun, masalah-masalah yang ada di masyarakat, ya memang merupakan tugas para sosiolog untuk membantu menyelesaikannya. Hukum itu adalah untuk mengatur masyarakat dengan norma-norma dan aturan-aturan yang ada. Lha kalau permasalahan masyarakat itu ada sangkutannya dengan hukum, dalam arti ada pelanggaran hukum, baru deh diselesaikan dengan aturan hukum yang ada sehinga tercipta keadilan. Jadi ya jangan dicampur adukkan antara sosiologi dan hukum, walau dengan dengan harapan-harapan untuk membantu mulusnya penyelesaian permasalahan masyarakat. Nanti malah yang ada, semua jadi kabur, karena semuanya memang udah ada jalurnya sendiri-sendiri. Kalau ada persinggungan saat di jalannya, baru di cermati dan di analisis dengan sebaik-baiknya, dengan pikiran jernih dan hati yang terbuka tanpa takut disalahkan maupun di kritik, pokoknya yang sama-sama bijaksana lah tanpa embel-embel kepentingan macam-macam.

Jadi, ga semua orang hukum itu benar dan ga semuanya juga salah, ga semua cerdas dan ga semua bodoh, ga semua bijaksana dan ga semua pinter menilai keadaan dan pinter menganalisis, ga semuanya di jalur yang benar dan ga semuanya di jalur yang salah. Tapi siapapun itu, kalau dia pernah belajar tentang hukum apalagi advokat, sedikit banyak dia tau mana sih sebenarnya yang benar dan siapa sih sebenarnya yang salah dalam suatu kasus. Namun demikian, tidak semuanya mau jujur dan menjunjung tinggi keadilan di dalamnya, karena emang semua itu berat , entah karena masalah ekonomi, gensi, lifestyle, ataupun kepentingan lainnya. Nah, semua itu, hanya iman dan hati nurani kita lah ujung-ujungnya yang akan bisa menyuarakan Justice. Jadi jelaskan, kalau iman bobrok, ya jelas hukum bobrok dan keadilan mana mungkin bisa ditegakkan, dan pasti masalah juga tetep aja melebar kemana-mana.

Hehehe, ya sudah ya, ceritaku cukup sampai sini saja, itu sedikit pemikiranku yang melayang-layang setelah menonton film di 21 dan mencerna ilmu yang kudapat di kuliah dulu. Mungkin orang yang belum pernah belajar hukum akan agak bingung dengan yang kutulis diatas, karena paling tidak dia harus paham dulu sih apa sebenarnya defisi keadilan, dia paham apa itu dan bla bla bala lainnya, juga paling tidak dia tau juga sedikit tentang sosiologi, so bisa melihat batasannya. Sebab, kalau ga tau dan sok sok tau, ya aku yakin yang ada nanti adalah debat kusir yang ga ada habisnya. Well, pesanku cuma satu, rajin-rajinlah membaca ! Apapun itu, dilahap saja, aku sendiri sering membacai bungkus nasi kucing yang kumakan lho karena ga punya duit buat beli buku,heheheee….

Bagiku, hukum itu indah…jika kamu bisa memahaminya filosofinya dari hati yang terdalam !

***Buat temen-tem hukum ku: Aku akhirnya lebih memilih keinginan hatiku yang menggebu-gebu untuk melakukan direct action dalam membantu orang, so aku sekarang bergabung ke PMI. Semoga keadilan bisa tetap kita tegakkan dimana pun jalan yang kita ambil…Tetap semangat !!!