“SESUATU” DARI BORNEO…

Banyak orang ketika itu shock mendengar keputusanku untuk pergi ke bumi khatulistiwa, tepatnya di Kalimantan Selatan. Pikiran itu sebenarnya sudah lama ada dalam benakku sejak aku tiba-tiba saja masuk rumah sakit karena Demam Berdarah dan tak berapa lama, ayahku menyusul masuk rumah sakit karena sroke-nya, dan akhirnya meninggal dunia. Semua hal yang datang bertubi-tubi itu, membuat aku menjadi bukan diriku lagi, hatiku goyah, dan bahkan aku tak mampu berfikir tentang diriku lagi. Aku sama sekali tak tau, aku akan melakukan apa ke depannya.

Aku benar-benar tak pernah menyangka saja, kejadiannya begitu cepat terjadi. Aku bahkan masih tak percaya, ayahku pergi begitu cepatnya meninggalkan kami. Dua bulan, aku tak masuk tempat kerjaku karena selain DB aku juga terkena typus dan harus istirahat total 1 bulan. Tapi, kenyataannya, cutiku menjadi sangat panjang karena kepergian ayahku. Belum lagi kekecewaanku terhadap bosku, membuat aku juga akhirnya mengecewakannya. Semua hal itu, datang secara beruntun, dan semuanya berat sekali rasanya. Sepanjang hari, aku hanya berusaha agar isi otakku kosong, aku berharap bisa mengeluarkan semua hal yang ada didalamnya. Tapi sia-sia, selalu saja ada hal yang aku pikirkan, hingga aku merasa tak pernah bisa berhenti berfikir.

Meski akhirnya ada yang menawari aku kerja ditempat lain, ternyata aku tak juga bisa berubah. Pikiranku terus saja berjalan tanpa bisa aku hentikan, walau dengan cara apapun. Tak ada yang salah sebenarnya dalam kehidupanku, semua normal seperti semula lagi. Dan dengan aku pindah dikantor yang baru pun, aku semakin aman, paling tidak aku tidak lagi telat untuk membayar uang kosku. Tapi tidak batinku, jiwaku kacau, bebanku terasa semakin berat, dan semua bilang aku terlalu keras dengan diriku sendiri. Aku tak mampu lagi mengendalikan pikiranku, aku kacau. Dan saat itu, aku putuskan, aku harus meninggalkan kota Solo ini, dan hanya kembali jika aku sudah yakin, aku bisa hidup lagi didalamnya. Solo, lebih lama aku tinggal di kota itu dibandingkan aku tinggal di desa kelahiranku. Di tiap sudut kota Solo itulah, semua kenangan hidupku yang sangat indah dan berarti terangkai disana, namun demikian, kenangan pahit pun terangkai sebanding dengan manisnya.

Aku pun putuskan untuk segera terbang ke kalsel, karena tinggal dikota kelahiranku pun, aku tak juga sanggup dengan kenangan yang ada bersama ayahku. Hanya 4 hari setelah surat pengunduran diriku dikantor baru, aku pun sudah berada di Borneo. Dan hanya 4 hari itu, aku berusaha mengunjungi setiap rumah teman-temanku untuk berpamitan. Semua shock dengan keputusanku itu, kecuali Mba Ache, karena hanya dengan dialah aku menceritakan semua rencanaku. Banyak yang menahanku untuk tetap di Solo, ada juga yang memintaku untuk menikah saja (Apa hubungannya coba ??? memangnya se-simple itu penyelesaian semua masalah…). Bosku yang baru, malah sebenarnya sudah mau menaikkan gajiku bulan itu. Tapi, aku sudah bulat untuk pergi meski aku sendiri masih sangat abstrak dengan apa yang akan aku lakukan di Borneo ini. Entah keberanian dari mana, tapi aku yakin sekali, aku akan mendapatkan sesuatu dari sini.

Sesampainya aku disini, aku juga tak langsung mencari kerja. Aku hanya hidup sederhana, tanpa banyak memikirkan masalah uang. Dan hanya dari memberi les pelajaran di sekitar kontrakkan kakakku, aku hidup disini. Aku mempunyai banyak sekali waktu luang, sangat berbeda sekali dengan hidupku di Solo, tapi inilah yang aku cari disini. Setiap hari, paling aku hanya menghabiskan 1 atau 2 jam memberi les, selebihnya aku punya waktu 22 jam untuk melakukan segala hal yang aku ingin lakukan. Hingga akhirnya aku mampu membuat list, dan program pribadiku untuk melancarkan bahasa inggris dan perancisku. Hal yang selalu aku curi-curi ketika di Solo, tapi selalu gagal dan aku pun semakin jauh dengan banyak buku-bukuku yang ingin aku selesaikan membacanya. Semua itu, di Borneo inilah aku mampu menyelesaikannya. Aku bahkan berlangganan tv kabel, agar setiap hari aku bisa menonton CNN dan Crime Scence Investigation(CSI), film tentang tim laboratorium forensic dalam menangani kejahatan dan kriminalitas. Andai, aku tau tentang film ini sejak zaman kuliah dulu, aku yakin nilai moot court(persidangan semu/praktek sidangku) akan sangat keren sekali, paling tidak aku bisa mengarang kasus dengan sangat menarik. Dan aku yakin sekali, kalau di sekolah pendidikan polisi Indonesia dibuatkan jadwal khusus menonton film ini, aku yakin, Ryan si gay yang hobby ngebunuh itu bakal ketangkap sebelum mengubur segitu banyaknya tubuh orang. Wah, aku jadi sedikit menyesal sebenarnya, karena dulu tidak jadi mengambil mata kuliah pilihan forensic, cuma gara-gara aku malas berjalan panas-panas sendirian ke fakultas kedokteran. Yup sendiri, karena semua teman dekatku sama sekali tidak ada yang tertarik. Tapi ya, ada untungnya juga sih, karena kalaupun aku ambil kuliah itu, belum tentu juga laboratorium forensic tercanggih di Indonesia bisa ngalahin labfor nya salah satu negara bagian di AS, hehe…Begitulah, film CSI bagiku sekarang sekedar hobby saja, karena aku akan tetap berjalan lurus dijalanku yang telah aku pilih, internasionalisasi dan technology dalam perspektif hukum.

Itulah hidupku selama 6 bulan di Borneo, dan ada satu hal menarik yang belum aku ceritakan. Finally, aku pun mampu berada di ruang dapur untuk paling tidak 2 jam lamanya setiap harinya. Sekedar untuk menanak nasi, dan membuat sayur dan lauk sederhana. Suatu hal yang selama 24 th usiaku, pada akhirnya bisa juga aku lakukan. Meski asin-asin dan kacau rasanya di awal, tapi aku senang punya seorang kakak yang tak pernah complain dengan hasil masakan yang kubuat. Dengan lahap, dan senyum tulus, dia makan juga masakanku, meski aku tidak pernah tau isi hatinya tentang semua itu ,hehee…Bahkan ibuku pun selalu tertawa jika menelponku dan menanyakan tentang masakanku hari itu. Tapi aku yakin sekali, dibalik tawa ibuku itu, ada perasaan lega, karena putrinya yang paling bandel ini, dan yang paling tidak mau diajari memasak ini, akhirnya bisa juga memasak meski hanya bisa dimakan untuk dirinya sendiri. Lumayan lah, karena paling tidak, jika aku ke Perancis nanti, aku tidak harus selalu beli makanan yang pasti akan mengahabiskan banyak euro-ku.

Dalam banyak hal yang bisa aku lakukan disini, aku pun menyadari satu hal, “orang bisa melakukan apa saja yang ingin dia lakukan, tapi tak semua keinginan itu bisa dia dapatkan”. Kita harus ingat satu hal, bahwa ALLAH SWT sudah menetapkan yang terbaik bagi tiap umatnya. Aku pun selalu ingat apa yang pernah Pak Wiranto, dosenku yang sudah aku anggap seperti ayahku, mengatakan padaku bahwa tiap orang sudah diberi jalannya masing-masing, dan aku tak perlu mengkhawatirkan akan jadi apa sebenarnya diriku nantinya, karena aku pun sudah pasti telah pula mendapat ketetapan-NYA. Begitulah pesannya dan aku pun kini telah menyadarinya. Aku hanya perlu selalu berusaha melakukan setiap hal yang ada didepanku sebaik mungkin, dan bersabar menunggu tiba saatnya untukku mengetahui menjadi apa aku di dunia ini. Aku menjadi lebih rileks sekarang, aku tidak lagi terlalu keras pada diriku, dan aku akan selalu punya waktu untuk diriku bisa merasakan tersenyum kembali, bahkan aku sekarang bisa bermain softball di Borneo ini, dan tidak lagi mendewakan bola basket, pacarku sejak SMP. Aku merasa, inilah yang terpenting bagiku sekarang, bisa kembali lagi tersenyum, bisa kembali lagi melihat begitu banyaknya warna dalam hidup ini, dan otakku bisa kembali seperti dulu, aku telah bisa kembali memegang kendali rem otakku sekarang. Walaupun mungkin sekarang, fondasi dalam hidupku belumlah kokoh karena aku bahkan belum tau menjadi apa diriku kelak, tapi aku rasa bukan itu yang perlu aku khawatirkan. Bagaimana aku bisa menjalani hidupku dengan banyak senyum didalamnya, banyak tertawa, dan penuh kebebasan untuk melakukan kontak langsung dengan sesama dan membantu sesama tanpa hasrat responsibility yang berlebih, sepertinya akan membuat hidup ini simple dan menjadi sangat indah.

*Buat teman2ku yang sering complain karena aku tak juga posting tulisan2ku : Maaf, bukannya tak mau, tapi susah bagiku nyari internet gratis di Borneo,heheee….